1
Sihir Tung Tau, Pantai Parai Tenggiri Dan Tanjung Pesona
Posted by Arif Haye
on
Sunday, August 28, 2016
in
menulis
Sriwijaya Air melesat di antara tumpukan awan. Di atas cakrawala antara Jakarta- Pangkalpinang. Tak habisnya saya membayangkan seperti apa wajah kota yang seharusnya saya kunjungi belasan tahun lalu atas undangan kawan lama SMA.
Hidangan kecil sang pramugari berupa sebungkus roti coklat dan air mineral sesaat berhasil mengalihkan perhatian saya. Namun kemudian ingatan tentang kota ini pun kembali muncul.
Nyaris satu jam berada di pesawat, saya mendapati kejutan kecil di bawah sana. Pesona warna dari danau-danau bekas tambang timah yang ditinggalkan. Walau ditinggalkan namun tetap saja indah dipandang mata.
“Kita akan segera mendarat, kencangkan sabuk pengaman, tetap di kursi Anda masing-masing hingga pesawat benar-benar berhenti!” kurang lebih seperti itu pesan mengingatkan sang pramugari di pengeras suara sesaat sebelum pesawat membumi.
Pesawat mendarat selamat di Bandara Depati Amir pukul delapanan pagi. Entah pukul berapa tepatnya karena telepon genggang belum sempat saya hidupkan kembali. Yang pasti saya menyapa Pangkalpinang dan menjadi tamu kota ini bersama tiga rekan saya: Sidiq, Zulkifli, dan Adi. Saya sendiri Arif.
Dari kejauhan, seorang pria begitu bersemangat mendatangi kami dengan khas senyum Pangkalpinangnya. Dari penampilannya bisa saya prediksi jika umurnya masih sepantaran kami.
“Pak Sidiq, Pak Zul, Pak Adi. Lama tak jumpa kita!”
Satu per satu anggota rombongan disapa dan disalaminya. Hingga tibalah giliran saya.
“Dan?....”
Lisan lelaki ini tercekat menuntut nama. Saya segera menyambut keramahannya.
“Saya Arif.”
“Saya Syafril, Pak Arif. Ini kali pertama Bapak ke sini?”
Saya jujur mengiyakan. Merasa tak ada istimewanya berkenalan dengan saya, lelaki yang ternyata supir langganan Sidiq dan kawan-kawan ini segera beralih ke fokus profesi.
“Jadi bapak-bapak ini mau saya antar ke mana?”
Sidiq merespon cepat, “Tungtaow, Bang Syafril!”
Tungtaow? Tak pernah tahu nama itu, juga tak pernah dibahas di atas pesawat tentangnya, kecuali terdengar seperti merek hio merah yang sengaja dinyalakan untuk menakuti saya. Tapi jika benar ini tentang memenuhi kebutuhan perut seseorang, saya berharap ada perantau sunda di Pangkalpinang berjualan kupat tahu singaparna.
Mobil berangkat. Sekitar limabelasan menit menceracau tentang pekerjaan kami di Bandung, sampailah kami di depan kedai kopi dengan nama hio tadi: Tung Tau, bukan Tungtaow saudara-saudara!
Sidiq yang sepertinya lapar berat, cekatan menawari kami pilihan menu sarapan terfavorit di Tung Tau.
“Selain kopi robustanya yang terkenal jinak di lambung, rotibakarnya juga juara. Aku pesankan lima kopi-o dan lima roti bakar telur untuk sarapan kita semua, bagaimana? Bang Syafril juga sarapan ya?”
Terlihat ekspresi wajah Bang Syafril yang siap menolak. Tak enak hati ditraktir tamu pikirnya. Tapi terlambat. Pelayan sudah masuk ke dapur untuk memroses pesanan kami. Saya sendiri tak masalah sama sekali dengan ancaman kopi robusta yang kadang memeras kulit lambung. Terlebih Sidiq tadi sudah memastikan jika kopi racikan Tung Tau itu jinak di lambung. Ah, semakin tenang saja hati ini.
Tiga puluh menit, waktu yang kami habiskan untuk menikmati sepenuhnya sihir kelezatan sarapan di Tung Tau ditemani kabar-kabar kecil tentang sejarah Tung Tau atas lisan Bang Syafril. Walau belum sempat dikonfirmasi kebenarannya kepada sang pemilik, saya berharap Bang Syafril tidak sedang membual tentang sejarah Tung Tau yang katanya sebagai kedai kopi tertua di Pangkalpinang.
Terlena dengan menu sarapan yang berhasil memanjakan lidah, membuat kami sampai lupa jika harus mengabadikan sihir Tung Tau dalam beberapa kali jepretan welfie.
Meninggalkan piring dan cangkir kotor di Tung Tau, Zulkifli yang sudah lama risih dengan efek lengket keringat, meminta kami untuk memenuhi permintaannya chek in. Semua setuju. Hotel Centrum di bilangan Depati Amir menjadi tujuan kami.
Lewat tengah hari kami mulai merencanakan pergerakan. Ada beberapa opsi, tapi Sidiq seperti terbebani janji yang terlanjur terucap di atas pesawat tentang kunjungan ke pantai.
“Gak usah nunggu week end-lah. Kelamaan! Lagian Arif kan bakalan balik duluan ke Bandung. Malah mumpung week day kita ke sana, jadi seperti pantai milik sendiri!” katanya memanasi saya.
Saya pikir, apa istimewanya pantai Pangkalpinang? Salah jika merayu soal pantai ke saya, secara saya bukanlah anak pantai dan memang tidak terlalu suka pantai. Tapi daripada bengong sendiri di hotel, tak ada salahnya pelesiran ke sana.
“Sekarang kita meluncur ke Pantai Parai ya?” masih dari Sidiq yang sejak awal sudah macam pemandu wisata saja.
Di sepanjang perjalanan menuju pantai, saya disuguhi keunikan pemandangan khas kota kecil Pangkalpinang. Nuansa etnik negeri tirai bambu kental disajikan di beberapa sudut jalan dengan dominasi cat merah dan ornamen naga. Dan seperti sengaja bermaksud memanasi seseorang yang bakalan pulang lebih cepat dari jadwal pulang rombongan, Bang Syafril diminta mengambil jalan memutar, memasuki komplek pemakaman cina.
“Namanya Pemakaman Sentosa, bakalan rame April ini, Rif. Ada magnet Ceng Beng yang akan menarik minat siapa saja untuk datang ke pemakaman cina terluas se-Asia Tenggara ini. Bukan begitu Bang Syafril? ” Adi yang kali ini berbunyi.
“Itu benar adanya, Pak Arif. Bakalan ada sajian kesenian tanjidor, ritual membakar uang dan hio, menyalakan lampion, hingga pembagian tai fu sui gratis.”
“Tai fu sui?”
“Itu susu kedelai khas Pangkalpinang, Pak.”
Demi membeberkan titik-titik pesona perayaan tahunan Ceng Beng, Bang Syafril harus sampai membagi fokus menyetir. Tapi tetap, keselamatan penumpang yang utama. Beres bercerita, lelaki ini kembali senyap. Pandangannya lekat ke depan. Ia hanya akan kembali bersuara jika dibutuhkan.
Ditemani siaran radio lokal, kami ngemil dan membicarakan hal apa pun. Sesekali terselip candaan murahan dan itu berhasil meriuhkan suasana mobil.
Hingga akhirnya angin Pantai Parai Tenggiri berhembus menyelinap ke sela kaca jendela mobil membisiki sesuatu, “Kalian sudah sampai di Pantai Parai Tenggiri, nikmatilah!...Tapi ingat jangan buang sampah sembarangan!”
Berusaha menjadi tamu yang baik di pantai orang, keluar mobil kami sepakat untuk tidak membawa serta camilan yang baru dihabiskan setengah jalan.
Langit di atas kami cerah. Oh, Pantai Parai Tenggiri. Putih dan lembut pasirnya, tak pernah melukai telapak kaki siapa pun. Tak pernah saya temui karakter pasir semenarik itu di pantai mana pun sebelumnya. Sedangkan bentuk dan tekstur bebatuannya, dikombinasikan dengan perwajahan pantainya, satu ungkapan untuk itu semua: lukisan alam yang sempurna! Semakin terlena saja buat saya untuk menambah koleksi hasil jepretan, yang lagi-lagi swafoto.
Akhirnya Alhamdulillah, rasa syukur kepada Allah dan terima kasih kepada semua pihak yang memantaskan saya bisa singgah di pantai seindah Parai Tenggiri ini.
“Hey!, ini belum berakhir tauk!” dari arah belakang Sidiq membuyarkan panjatan syukur saya.
“Apanya, Diq?”
“Kalau kamu merem-merem gak jelas kayak tadi itu sebagai pertanda perpisahan pantai, habis ini kita mau jalan lagi ke pantai yang lain!”
“Hah! Memang mau ke mana lagi kita setelah ini?”
“Ke pantai yang paling dekat dari Pantai Parai saja ya, Pantai Tanjung Pesona!”
Kami pun bermaksud meninggalkan Pantai Parai Tenggiri untuk menyapa Pantai Tanjung Pesona. Namun sebelum sampai ke sana, berjalan menuju areal parkir, saya sempat menemukan spot perahu tertambatkan ini. Segera menarik minat saya untuk mengabadikannya.
Dan inilah pantai kedua kami, Pantai Tanjung Pesona.
Sempat terpikirkan untuk bermain basah-basahan dan mulai membangun istana pasir hanya dengan tangan dan sedikit imajinasi. Tapi itu begitu kekanak-kanakan. Malu saja pada usia. Akhirnya, saya urungkan niat itu.
Berjam-jam kami di sana hingga senja menua di ufuk barat. Waktu berputar, semakin menggelapkan angkasa kian detiknya. Kami memutuskan untuk balik lagi ke hotel dengan perut terisi namun salah prediksi. Minimal perut saya. Mie Koba Iskandar pinggir jalan tadi rupanya tidak berhasil membuat saya kenyang lebih lama, padahal telur rebusnya sudah nambah dua kali. Saya rebahan sejenak di atas kasur hotel dengan perut yang sungguh berisik.
Sambil menahan lapar, saya berpikir, “anak-anak pada mau makan di mana malam ini?”
Walau masih misteri, saya yakin begitu saja jika Sidiq dan kawan-kawan yang lebih mengenal godaan kuliner kota ini, tentu tak akan mengecewakan perut dan lidah saya. Akhirnya, setelah mengalami proses debat kusir berkepanjangan antara makan malam di Neptune, Asui, atau Pagi Sore, takdir membawa kami ke Pagi Sore. Rumah makan padang ini berhasil membuat saya kenyang bukan buatan.
Dan setelah semua euforia itu, kekhawatiran saya pun terjadi. Saya harus prematur meninggalkan Pangkalpinang. Hanya dua hari saya bertamu di kota serumpun sebalai ini. Sungguh terlalu singkat untuk dikatakan cukup. Terlebih, benci dengan Sidiq yang terus memanasi saya atas banyak hal yang terlewatkan di sana. Namun kota ini memang pantas untuk kembali saya kunjungi. Bon Voyage!
#pesonapangkalpinang





