0

Dua Santri Kota

Posted by Arif Haye on Wednesday, October 05, 2016 in


Saat itu sudah lewat tengah malam. Berharap tidak disangka maling, Guru Suraji dengan sangat ragu mengetuk jendela kayu rumah Kiyai Suja. Rasa bersalah seketika menyelimutinya.
Tak pantas selarut itu siapa pun mengusik waktu istirahat sesepuh pondok, tidak pula wakil dewan guru, pikirnya. Tapi dua santri baru asal kota itu sudah kepalang tanggung membikin pusing tujuh keliling. Tristan dan Antora sudah kebal sangsi. Hukuman tidak pernah mampu menjerakan keduanya. Dominasi dewan guru dipertaruhkan. Dewan guru sudah siaga satu. Sudah pula mereka hilang akal. Logika tak lagi berfungsi. Sudah lama mereka butuh bantuan Kiyai Suja. Masalahnya, Kiyai Suja terlalu penuh karisma. Karismanya menciutkan nyali dewan guru. Guru Suraji-lah yang akhirnya maju memberanikan diri.

Seketukan tangan di jendela sudah mampu membuat Kiyai Suja terjaga.

“Siapa?”

Terdengar Kiyai Suja berat membawa suaranya sendiri.

“Saya Suraji, Pak Kiyai”

“Kamu, Ji. Ada apa?”

“Pak Kiyai, emmm... maaf. Saya mewakili rekan pengajar mengundang Pak kiyai rapat darurat di mesjid, sekarang.”

“Rapat darurat? Sedarurat apa?”

“Sedarurat daruratnya, Pak Kiyai. Terkait integritas para pengajar di mata santri.”

“Seserius itu, ji?"

"Sepertinya memang demikian."

"Sebabnya?”

“Makar Tristan dan Antora.”

“Mereka hanya dua santri baru, Ji. Belum dapat dua bulan tinggal di sini. Tidak  seserius yang kalian bayangkan.”

“Bukan hanya dua santri baru Pak Kiyai, tapi dua santri baru dari kota. Kami tidak pernah punya pengalaman dengan makhluk seperti itu. Bandelnya di luar rata-rata. Jelas-jelas ini makar, Pak Kiyai. Kami, persekutuan pengajar butuh bantuan Pak Kiyai.”

“Ya sudah, sepertinya memang sedarurat itu. Lagi pula kalian sudah terlanjur membangunkan saya. Tunggu saya di sana lima belas menit lagi.”

“Baik, Pak Kiyai.”

Lima belas menit kemudian, bahkan kurang semenit dari waktu yang dijanjikan. Kiyai Suja tersenyum mendapati sekumpulan guru menyambutnya hangat di mesjid. Kiyai Suja mengambil posisi duduk bersila di belakang mihrob. Lelaki berjanggut putih itu duduk sambil menyilangkan tangannya di dada.

“Saya dengar kalian bermasalah dengan dua anak kota itu, benarkah?”
Satu per satu guru berbunyi membenarkan.

“Apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan?”

Dari arah pojok, lelaki dengan potongan rambut cenderung panjang mengacungkan telunjuknya.

“Silakan, Burhan.”

“Pak Kiyai, Tristan dan Antora berkali-kali merusak kelas tahfidz Qur’an. Mereka berdua selalu saja berduet membawakan ragu rap, dup-dup yea-yea! Sampai-sampai merusak fokus murajaah santri lainnya. Mereka layaknya dua apel busuk di tengah dua puluh  delapan apel segar. Bukankah apel busuk akan menularkan kebusukannya?”

“Sudah kamu ingatkan keduanya?”

“Sudah, bahkan terlalu sering Pak Kiyai!”

“Hasilnya?”

“Ini kali pertama dalam sejarah, kelas tahfidz gagal mencapai target. Dua bulan belum juga dapat satu juz!”

“Oh begitu?” Kiyai Suja baru saja menelan keluhan pertama.

Kiyai Suja berpaling dari Guru Burhan.

“Bagaimana dengan lainnya?”

“Saya, Pak Kiyai!”

Terpaut sembilan orang dari Guru Burhan, lelaki berperawakan bongsor berminat urun keluhan.

“Kamu Dun, Silakan.”

“Dua anak kota itu Pak Kiyai,” Guru Dudun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia seperti butuh melakukannya. “Selalu mengajukan pertanyaan konyol di kelas sejarah Islam.”

“Pertanyaan seperti apa itu?”

“Mustahil saya ulang pertanyaan itu di pertemuan semulia ini. Tristan dan Antora memang sengaja memicu kelas untuk gaduh!”

“Kamu tahu Dun, Itu namanya intermeso. Selamat, kelas sejarah Islam-mu hidup!”

“Terlalu hidup hingga kelas lepas kendali.”

“Jadi begitu ya?”

Pandangan Kiyai Suja lagi-lagi beredar, masih mencari tambahan keluhan, itu pun jika masih ada.

“Ada lagi?”

“Saya Pak Kiyai!”

Tepat di sebelah Guru Dudun, Guru Darman mengacung. Tangan lelaki ini beraroma tanah dan kapalan di bagian telapaknya. Pacul menjadi teman dekatnya jauh dari yang pernah dibayangkan orang.

“Mang Darman, Silakan!”

“Begini Pak Kiyai. Baru kali ini saya dapati ada santri baru yang sengaja mengabaikan instruksi saya di kebun. ”

“Mungkin instruksimu kurang terdengar, Mang.”

“Itu tidak mungkin, Pak Kiyai. Khusus menghadapi Tristan dan Antora saya teriak di depan megafon!”

“Jadi begitu ya?"

Kiyai Suja berpaling dari Guru Darman.

“Masih ada?”

Alih-laih mengacungkan tangan, Guru Suraji segera berkomentar. Lelaki ini khilaf jika baru saja melanggar etika bermajlis.

“Ya, kurang lebihnya paling seperti itu, Pak Kiyai. Intinya proses belajar-mengajar jadi tak kondusif. Ini membuat moral rekan-rekan pengajar turun. Selama sejarah kami mengajar di Pesantren Al-Ihtisab ini belum pernah kami temui santri dengan perilaku macam dua jin ifrit itu. Bahkan hingga akhirnya kami, maaf, malah mulai memertanyakan keputusan Pak Kiyai menerima dua santri baru dari kota itu, sesuatu yang memang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Satu-satunya komentar Guru Suraji berbuah dukungan segenap rekan guru. Mereka tak kurang mengangguk-angguk tanda Guru Suraji baru saja mewakili inti kekesalan mereka.

“Jadi kalian maunya bagaimana?”

“Demi menjaga suasana belajar-mengajar yang kondusif, mengapa tidak kita kembalikan saja dua anak itu kepada kedua orangtua mereka?”

“Saya setuju, Pak Kiyai!”

“Itu betul! Kita kembalikan saja dua anak itu. Biar orangtua mereka mencari jalan keluar sendiri bagaimana mendidik anak menjadi saleh! Jangan kita yang malah jadi korban!”

“Pesantren di negeri ini kan banyak, orang tua mereka juga punya uang banyak, saya pikir mereka bisa sangat leluasa mencarikan pesantren pengganti.”

“Kami sudah nyaman dengan anak-anak miskin dan yatim, juga anak-anak Kampung Bojong Hideung ini, Pak Kiyai. Mereka anak-anak penurut.”

Sesaat forum hening. Kiyai Suja masih menunggu jika masih ada suara desakan tersisa.
Tidak ada. Secara aklamasi dewan guru menghendaki Tristan dan Antora untuk kembali ke pengasuhan ayah dan ibu mereka.

“Lalu mengapa pula harus selarut ini?”

“Kami hanya menghindar dari gangguan Tristan dan Antora yang selalu tidak terduga, Pak Kiyai.”

Kiyai Suja tersenyum.

“Hadirin sekalian, entah saya akan memulai dari mana. Yang pasti ini bukan tentang orang lain. Ini tentang kita. Di sini. Bertahun lamanya.”

Merasa apa yang akan disampaikan adalah wejangan tingkat tinggi, walau seperti biasa, akan sedikit bertele-tele, dewan guru sudi menyimak lekat. Beberapa guru terlihat harus sampai mengatur ulang cara duduk mereka. Ada janji tak terucap jika mereka akan memerhatikan setiap kata yang keluar.

“Saya memulai Al-Ihtisab dari sangat nol. Tidak ada yang mendukung kecuali ibu. Saya memulai Al-Ihtisab di penghujung perubahan hidup saya.”

Kiyai Suja sengaja melambatkan alur bicara.

“Saya berasal dari kalangan keluarga agamis. Bolehlah dibilang begitu. Bapak adalah mantan santri kalong. Ia mengaji hanya jika senja telah berganti malam. Bapak boleh dibilang sosok panutan keluarga. Tidak ada cela baginya kecuali bapak berhasil membuat saya tertekan di rumah. Bapak obsesif dengan cita-cita anak salehnya. Saya dipaksa belajar, saya dipaksa mengaji, dipaksa bantu ibu, dipaksa ini-itu, tanpa sedikit pun bapak memberikan dirinya kesempatan untuk melakukan semua itu dengan pendekatan yang lebih berkasih sayang. Sekali saya berkata tidak, rotan yang bicara.”

Para hadirin bergeming.

“Saya pernah kuat namun akhirnya berontak. Saya kabur dari rumah dan resmi mencari kehidupan di jalan. Tanpa sokongan orangtua, saya harus tetap hidup. Jika ada orang yang bilang hidup di jalan itu keras, hidup di jalan memang keras. Saya melakukan apa pun untuk hidup. Saya juga berbuat apa pun untuk melampiaskan sisi pemberontakan saya kepada bapak. Satu bukti pemberontakan itu saya abadikan di sini.”

Untuk pertama kalinya di depan publik, Kiyai Suja memerlihatkan seukiran tato tokoh perlawanan Che Guevara di bawah ketiak kirinya. Dewan guru terperangah. Kiyai Suja tidak terlalu memikirkan respon mereka.

“Bertahun-tahun saya berteman baik dengan keliaran hingga akhirnya saya sendiri bosan dengannya. Saya mulai mencari pencerahan hingga takdir memertemukan saya dengan Ki Somat di Kampung Bojong Hideung ini. Darinya saya belajar banyak tentang Dien Islam. Saya sering bertanya di luar nalar dan penuh kebodohan. Beliau selalu ada waktu untuk menjawab semua pertanyaan bodoh itu. Beliau menjawab dengan penuh kesabaran. Beliau  memerlakukan saya layaknya tanaman yang ia tanam di kebunnya. Beliau merawat tanaman miliknya dengan hati dan kasih sayang. Dengan keduanya, sudah lebih dari cukup untuk membuat tanaman itu tumbuh subur. Saya tumbuh subur dengan cinta dan kasih sayangnya.”

Kiyai Suja sejenak memejamkan mata, seperti akan mengungkapkan bagian lain dari cerita masa lalunya.

“Dua puluh empat Ramadan di usia saya yang ke dua puluh empat, Ki Somat berpulang. Sebelumnya, beliau pernah memberikan wasiat kepada saya untuk meneruskan cita-citanya yang belum terwujud, mendirikan pesantren. Jujur, saya tidak tahu harus berawal darimana. Dalam kebingungan, saya mendadak rindu pulang. Rindu itu tak lagi dapat tertahankan. Tak peduli akan ada bapak di sana, saya nekat pulang dengan niat sungkeman kepada bapak dan ibu.”

Kiyai Suja kembali sejenak memejamkan mata, lebih dalam dari pejaman mata yang pertama.

“Belum kering kesedihan hati ditinggal Ki Somat, saya mendapati hanya ibu di rumah. Bapak rupanya juga telah tiada. Saya merasa kembali terpuruk mengingat masih punya dosa kepada bapak. Namun ibu yang kemudian membesarkan hati jika bapak telah memaafkan saya. Jauh sekedar memaafkan, bapak bahkan punya satu harapan kepada saya, mendirikan pesantren. Saya sempat kaget. Dua lelaki dengan permintaan serupa. Tapi saya yakin ini bukan sebuah kebetulan. Ini cara Allah memelihara saya dari kelamnya masa lalu. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, saya pun mengazamkan diri untuk memenuhi harapan mereka berdua.”

Malam semakin tua pula semakin dingin tapi tidak ada satu pun hadirin yang mengeluhkan itu. Mereka terpikat dengan bagaimana Kiyai Suja berkilas balik.

“Berbekal prinsip ikhlas dan kemandirian, maka saya pun mendirikan Al-Ihtisab. Ini  sulit karena prinsip ini melarang saya untuk meminta bantuan pemerintah. Sepeser pun. Saya peras otak, dari mana Al-Ihtisab ini akan mendapatkan dana. Lama saya berpikir dan jawabannya sangat dengan warisan ilmu bercocok tanam yang pernah saya dapat dari Ki Somat. Dari sana saya berangkat mengais dana. Saya berusaha tanpa merasa letih untuk terus menghimpun kepercayaan warga sini supaya tanah mereka mau saya olah, supaya mereka mau saya ajari bagaimana bertani yang baik, dan supaya anak-anak mereka mau saya ajari mengaji. Mereka memberikan semua kepercayaan itu. Perlahan berjalan hingga akhirnya Allah mengamanahi Al-Ihtisab ini kepada saya.”

Kiyai Suja menelan ludah, melumasi kerongkongan.

“Sejak pertama didirikan, Al-Ihtisab tidak pernah memilah siapa yang berhak menjadi pengajar dan santrinya. Siapa pun boleh datang ke sini mengambil manfaat sebanyak-banyaknya. Hanya kemudian saya tidak ingin pesantren ini menjadi terlalu besar. Menjadi besar tidak selalu berarti baik. Menjadi besar akan memunculkan lebih banyak variabel masalah yang harus dicarikan jalan keluarnya. Jadilah lebih besar jika memang engkau mampu. Saya sendiri selalu punya alasan untuk tetap menjadi kecil. Inilah mengapa setiap tahun saya hanya akan menerima sejumlah tiga puluh santri baru.”

Hendak meneruskan uraiannya, tapi Guru Suraji keburu kebelet dengan rasa penasarannya.

“Apakah bilangan tiga puluh itu juga wasiat Ki Somat?”

“Tidak. Bilangan itu simbol kesyukuran, jumlah yang persis sama untuk satu ayat yang diulang-ulang dalam Surat Ar-Rohmaan.”

“Bagaimana dengan nama Al-Ihtisab itu sendiri? Apa juga wasiat Ki Somat?” bola panas penasaran baru saja menggelinding dari lisan Guru Burhan.

“Tidak juga. Itu hasil pencarian saya sendiri. Al-Ihitsab bermakna penghisaban, penghitungan. Saya ingin Al-Ihtisab menjadi awal orang menghitung diri untuk kemudian berbenah diri menjadi lebih baik. Bukankah ini yang terjadi pada diri kalian selama menetap di sini?”

Para hadirin mulai berkaca diri, hanya mampu terdiam.

“Tidak semua berangkat dari kesalehan, tidak pula semua berangkat dari kesalahan. Kita sama-sama ingin menjadi lebih baik di sini. Al-Ihtisab membina siapa saja, yang kaya atau pun miskin, yang saleh atau pun durjana, yang kampung atau pun kota."

Kiayi Suja menghela napas.

"Hingga suatu ketika semua komitmen tentang Al-Ihtisab ini mendapatkan ujiannya. Datang kepada saya dua pasangan orangtua dari kota, sama-sama meminta anak mereka supaya bisa diterima di sini. Saya bilang jika mereka terlambat datang, Al-Ihtisab sudah punya tiga puluh santri baru. Datanglah lebih awal di tahun depan, kata saya. Eh mereka malah menangis. Mereka bilang tak mungkin pulang dengan penolakan."

Sampai di titik ini, cerita Kiyai Suja berhasil mengobrak-abrik sebagian hati para hadirin. Mata mereka terlihat berkaca-kaca.

“Saya bilang ini tentang takdir Allah. Kembalilah pulang dan banyaklah berdoa. Mereka bilang jika mereka telah banyak berdoa. Saya bilang lebih banyak lagi berdoa. Mereka pun terpaksa pulang dengan harapan yang masih tertinggal di Al-Ihtisab ini.”

“Apa yang terjadi kemudian, Pak Kiyai?”

“Takdir Allah hanya bisa diubah dengan usaha dan doa, mereka melakukan keduanya dengan sangat baik. Selang sepekan kemudian, doa mereka dikabulkan. Dua nama santri baru yang sempat mendaftar resmi mengundurkan diri, mendadak ada dua kursi santri baru tanpa pemilik. Saya cepat-cepat menghubungi nomor mereka. Mereka senang bukan kepalang. Hadiah membanjiri Al-Ihtisab dari kedua orangtua yang bahagia karena kedua anak mereka boleh belajar agama di sini. Merekalah orangtua Tristan dan orangtua Antora. Orangtua dan anak sama-sama sahabatan. Mereka yang menghadiahi kalian baju koko dan sarung baru itu."

“Jadi pakaian dan sarung baru itu hadiah dari orangtua Tristan dan Antora? Aduh saya jadi malu sendiri.”

Seketika mulai terdengar keriuhan di kalangan dewan guru. Mereka mulai berpikir jika keputusan pemulangan Tristan dan Antora itu keliru. Rupanya mereka baru saja tersadarkan. Bukan semata sebab hadiah itu, tapi karena cinta dan kasih sayang yang memang belum sepenuhnya mereka curahkan.

Tepat pukul dua malam, mereka mendapatkan kejutan.

“Sahuuurr sahur!”

Ada tetabuhan kaleng rombeng mengiringi semangat suara itu dari kejauhan. Juga ada kegilaan karena memang Ramadan masih terpaut dua bulan lagi.

Guru Suraji kontan berdiri dan sesaat meminta ijin Kiyai Suja untuk mencari tahu siapa pemilik semangat sahur itu.

Sampai di ambang pintu mesjid, Guru Suraji segera mendapatkan jawabannya. Ia kembali dengan rona penuh pemakluman.

“Siapa, Ji?” tanya Kiyai Suja.

“Dua anak dengan takdir Allah itu, Pak Kiyai”




0 Comments

Post a Comment

Copyright © 2015 Penaku Penuh Warna All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.